oleh

Gurauan Sang Nakhoda Dengan Sendal Jepitnya

SENTUHAN angin malam nan manja, mulai menggerayangi sekujur tubuh kami ketika sedang asik bercengkrama di lesehan warung kopi yang berada di Desa Brabasan, Kecamatan Tanjung Raya Mesuji-Lampung.

Cahaya kekuningan lampu latar, menambah suasana keakraban bersama hitam pekat air kopi yang mulai mendingin.

Tiba-tiba, ffuuuuuusshhh… Suara desis bersamaan dengan kepulan asap, keluar dari mulut salah seorang teman ku Jubir (juru bicara) sambil menyeruput secangkir kopi.

“Mantap!!!” ucapnya memecah hening suasana.

Tak mau kalah gaya, beberapa teman juga serentak meraih cangkir di atas meja sambil meneguk kopi dengan gumam beragam bahasa.

“Setujuuuu, Uwenak tenan, dan Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kau Dustakan,” sembari bernafas lega.

Mendengar celoteh itu, aku seperti mendapat pelajaran dalam diri mereka. Meski pertanyaan demi pertanyaan sempat berkecamuk di dalam benak ku.

Karena, aku pun merasakan takaran kopi yang mereka minum sama seperti adonan kopi yang mulai membeku di gelas ku.

Tapi, ah kilah ku menampik perdebatan batin itu.
Sepatutnya aku bangga dekat orang-orang yang selalu bersyukur dengan keadaan.

Walau terdengar hiperbola, mungkin dengan cara itu mereka mengapresiasi kan kepura-puraan menjadi sebuah kebahagiaan.

Ibarat Pil pahit, “Suka tidak suka harus di nikmati,” kalau ingin pulih dan mendapat kebugaran di hari esok, cetus ku dalam hati.

Tak lama berselang!!!
Brouuum, brooouuumm, broummmm… Tieet tiit.. Lamunan ku lagi-lagi terusik oleh suara knalpot dan klakson motor yang langsung terparkir tepat dihadapan kami.

Dengan gaya khas, pengemudi motor berkumis tanpa janggut yang biasa ku sebut ‘Domba Centil’ itu menghampiri kami, “Sudah lama,?” tegurnya.

Ya, “Lumayan, itu kopi sudah tinggal ampas dan rokok hampir habis,” sahut Jubir.

“Darimana,” sapa ku sembari memberi salam pada Domba Centil itu.

“Biasa keliling, tadi disana hujan lokal, susah nyari tempat ngopi. Yuk, kita pesan kopi dan Sigaret lagi,” ajak nya sambil tertawa, ha ha haa.

Katanya hujan, “Tapi kok motor gak kotor becek-becekan,” tanya ku lagi.

Nah, “Gini Bro,” klakarnya sambil menyambut segelas kopi panas yang siap mengalir di celah-celah kumis Si Domba.

“Mesuji sekarang sudah banyak jalan yang berlapis beton dan aspal hitam, mulai jalan poros milik pemerintah maupun jalan-jalan desa yang dibangun menggunakan Dana Desa (DD).

Walau pembangunan nya belum merata, dan masih banyak jalan lubang berlumpur oleh genangan air.
kita gak perlu khawatir kepater lagi kalau mau kemana-mana.

Semoga kedepan Infrastruktur di Bumi Ragab Begawe Caram ini bisa terus di perbaiki.
Demi menunjang pembangunan nasional sebagai transportasi darat yang akan mendongkrak roda perekonomian daerah maupun masyarakat,” bebernya.

Sseeruuuuppppp,,, achhhh… Nafas panjang Si Domba mendesah setelah mencicipi kopi panas di pelukan dingin nya malam.

Entah apa yang merasuki, kelakar semakin menjadi setelah korek api membakar pucuk sebatang Sigaret yang baru saja di buka.

Waktu itu, kisah Domba melanjutkan obrolan.

Ada seorang Nakhoda yang sangat ingin memajukan pulau yang di singgahi nya.
Selain tempat bersandar, sebagian Anak Buah Kapal (ABK) yang ikut berjuang mengarungi ombak saat berlayar adalah penduduk asli dan luar pulau itu sendiri.

Sementara, kata Domba, untuk berjalan di daratan, ABK maupun warga selalu merasa kesulitan di sebabkan tekstur tanahnya berlahan gambut dengan aroma air kasam yang sewaktu-waktu dapat merusak hasil panen persawahan warga.

Melihat keadaan itu, didorong niat yang kuat “Nakhoda mulai membangun pulau step by step,” seloroh Domba bernada medok ala ke Barat-baratan.

Ia terus berupaya, berjuang mengerahkan segala kemampuan, pemikiran, dengan segenap kebijakan untuk membuka lebar jalan-jalan yang sudah tertutup semak belukar sebagai jalur penghubung.

Dan, menguras saluran air yang telah dangkal oleh lumpur untuk mengaliri area persawahan, sampai pengerasan badan jalan agar tidak lagi nampak seperti kubangan kerbau saat melintas disana.

Sampai suatu waktu, lanjut Domba mengurai cerita, dirinya bersama kawanan ABK sedang duduk bersama Nakhoda di pelataran sawah, berdampingan dengan jalan terbelah oleh kanal air yang tak lagi sempit di pandang mata, sambil menikmati sebungkus nasi dengan lauk sederhana.

Seketika, kejut Domba menirukan gaya saat Nakhoda berdiri dan melangkah menuju jalan utama, “Sekarang sudah enak jalannya. Kalau dulu jangan kan ban sepeda, sendal jepit aja ke pater dibuatnya,” canda Nakhoda mencairkan bahasa.

Ibarat pepatah, Nakhoda juga manusia, “Tak ada gading yang tak retak, karena nila setitik rusak juga susu sebelanga,” Syair Domba menambah cerita.

Buah Mengkudu Bunga Melati, waktu sudah berlalu Nakhoda pun telah berganti.

“Meski berlayar dengan Armada dan pulau yang sama warna, tentu aroma waktu berlabuhnya berbeda,” tutup Domba sembari menyeruput habis sisa-sisa ampas kopi yang sudah mengering dilumat dahaga.

Aku pun tercengang, mengartikan ucapan dan maksud si Domba.

Terimakasih Domba Tengil, celoteh mu mengurai hasrat ku untuk menggapai klimaks menikmati tiap detik goretan karya sampai sahur hampir tiba.

“Ayo kita berkemas, karena esok kita masih puasa sampai menunggu waktu berbuka tiba dengan berharap rahmat dan hidayah dari Allah yang maha kuasa. Kait kan semua urusan mu dengan Tuhan, niscaya engkau tak akan kecewa,” hasrat ku, Aamiin. (Eki)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed